KAPUAS HULU, SP - Botol-botol madu berwarna keemasan berjejer di lapak kecil milik Dessy Susanti di Pasar Lanjak.
Di tengah lalu lalang warga yang hendak menuju perbatasan Indonesia-Malaysia, madu hutan Danau Sentarum menjadi buruan oleh-oleh yang paling sering ditanyakan pembeli.
Sejak pagi, Dessy Susanti sudah sibuk melayani pembeli di lapaknya yang sederhana.
Sudah sekitar lima tahun ia menjual madu hutan sebagai bagian dari usaha yang kini menopang ekonomi keluarganya. Madu dijual dalam satuan liter dengan harga sekitar Rp180 ribu per liter.
Menurut Dessy, madu yang ia jual adalah madu asli. Ia kerap membagikan cara sederhana untuk membedakan madu asli dan palsu.
“Kalau ditaruh di atas tisu tidak basah. Kalau basah, berarti bukan asli,” ujarnya.
Cara lain yang sering ia sebutkan adalah dengan meneteskan madu ke dalam air. Madu asli akan tenggelam dan tidak langsung larut, sedangkan yang palsu akan cepat bercampur dengan air.
Setiap hari selalu ada pembeli yang datang, bahkan belakangan pesanan mulai berdatangan dari luar daerah melalui telepon.
“Saya kirim lewat bus atau travel yang melintas dari Lanjak ke Putussibau, lalu diteruskan ke daerah lain di Kalimantan Barat,” katanya.
Untuk meyakinkan pembeli, terutama wisatawan, ia juga menyediakan tester dalam kemasan kecil sekitar 60–130 ml.
“Mereka bisa mencicipi dulu. Banyak yang bilang rasanya unik, berbeda dengan madu yang biasa mereka konsumsi,” ujarnya.
Tidak banyak yang tahu, usaha yang kini menopang ekonomi keluarganya itu sempat berjalan dengan modal terbatas.
Hingga akhirnya ia memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar Rp50 juta untuk menambah modal usaha.
Ia memanfaatkannya untuk menambah stok madu dan produk olahan ikan yang menjadi andalan lapaknya.
"Sangat terbantu. Bisa untuk tambahan modal. Bersyukur sekali bisa dapat KUR dari BRI," ujar Dessy.
Madu Organik Premium
Madu yang dijual Dessy berasal dari kawasan Danau Sentarum, tepatnya berada di Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), yang berlokasi di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), sekitar 700 Km dari Kota Pontianak.
Kawasan konservasi ini secara administratif mencakup wilayah 7 kecamatan, termasuk Batang Lupar (Lanjak) dan Suhaid, serta berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan darat dari Putussibau.
Dari kawasan ini memang terkenal sebagai penghasil madu organik premium dari lebah liar Apis dorsata. Lebah ini bersarang di pepohonan tinggi di kawasan taman nasional yang merupakan salah satu lahan basah terbesar di Indonesia.
Pengelolaan madu dilakukan secara lestari oleh Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS), yang menjaga kualitas sekaligus keberlanjutan produksi madu.
Madu ini memiliki aroma khas bunga hutan, rasa manis yang kompleks dengan sedikit sentuhan asam, serta kadar air yang rendah.
Keunikan madu Danau Sentarum sangat dipengaruhi oleh ekosistem di sekitarnya yang didominasi lahan gambut dan hutan alami. Beragam jenis bunga liar menjadi sumber nektar utama bagi lebah.
“Rasa madu sangat bergantung pada bunga yang dikonsumsi lebah. Di sini yang khas itu bunga putat dan emasung,” ujar Manajer Pengolahan APDS, A.M. Erwanto.
Bunga putat menghasilkan madu dengan warna cenderung jingga, sementara bunga emasung menghasilkan madu yang lebih bening.
Perpaduan keduanya menciptakan karakter rasa yang berbeda dari madu daerah lain di Kalimantan.
Selain faktor alam, cara panen juga menjadi kunci penting. Masyarakat setempat menerapkan sistem panen lestari agar koloni lebah tetap terjaga.
Pada panen pertama yang biasanya dilakukan sekitar bulan Desember, hanya sebagian sarang yang diambil sehingga koloni masih bisa bertahan hingga musim berikutnya.
“Panen lestari tidak membunuh anak lebah. Kami mengadopsi teknik ini dari Vietnam,” jelas Erwanto.
Lebah Apis dorsata sendiri hanya datang sekali dalam setahun, biasanya pada musim hujan antara September hingga Maret, saat mereka membangun sarang hingga siap dipanen.
Untuk mendukung keberadaan lebah, masyarakat juga memanfaatkan sarang buatan yang disebut tikung, selain sarang alami di pohon besar (lalau) dan dahan alami (repak).
Tikung berbentuk seperti papan kecil yang dipasang pada pohon rindang, karena lebah tidak menyukai tempat terang.
Penempatannya pun harus memperhatikan kondisi lingkungan, dengan bagian belakang yang gelap agar sesuai dengan karakter lebah. “Lebah menjaga suhu sarangnya sekitar 33 derajat,” kata Erwanto.
Tradisi tikung ini telah diwariskan secara turun-temurun dan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan petani madu di Sentarum.
Madu yang telah dipanen dari berbagai periau di kawasan Danau Sentarum kemudian dikumpulkan dan diolah melalui koperasi APDS di Dusun Semangit, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kapuas Hulu.
Di tempat ini, madu yang masih memiliki kadar air tinggi diproses kembali agar memenuhi standar mutu sebelum dipasarkan.
APDS sendiri berdiri pada Mei 2016 dan menaungi 15 periau yang masing-masing dikelola berbasis kearifan lokal dengan pengurus tersendiri.
Seluruh sistem ini tidak hanya menjaga produksi madu, tetapi juga menjaga hutan sebagai rumah bagi lebah. Sebab, keberlanjutan madu sangat bergantung pada kelestarian alam.
“Kalau hutan rusak atau terjadi kebakaran, tahun berikutnya lebah tidak akan datang lagi,” ujar Erwanto.
Di Danau Sentarum, lebah bukan sekadar penghasil madu, tetapi juga penanda keseimbangan alam sekaligus penggerak ekonomi masyarakat perbatasan.
Dari lapak sederhana di Pasar Lanjak hingga hutan rawa yang luas, madu ini menghubungkan alam, tradisi, dan kehidupan warga dalam satu rantai yang saling bergantung. (aep mulyanto)